INSAN KAMIL SEBAGAI IDENTITAS MUSLIM

 INSAN KAMIL SEBAGAI IDENTITAS MUSLIM


Insan kamil berasal dari kata bahasa Arab, yaitu dari dua kata Insan dan Kamil. Secara harfiah, insan berarti manusia, dan kamil berarti sempurna. Dengan demikian, insan kamil adalah manusia yang sempurna. Kata insan mengacu kepada sifat manusia yang terpuji seperti kasih sayang dan mulia. Sementara menurut para filosof klasik, insan kamil sebagai kata yang menunjukkan pada arti manusia secara totalitas yang secara langsung mengarah pada hakikat manusia.

Konsepsi Islam menyatakan bahwa insan adalah makhluk terbaik (insan kamil) yang diciptakan Allah di atas permukaan alam. Kata ini dalam al-Qur’an (insan) disebut 60 kali. Dalam al-Qur’an kata insan dibedakan dengan kata basyar dan al-nas. Kata insan jamak dari al-nas yang mempunyai tiga asal kata. Pertama, berasal dari kata anasa yang mempunyai arti melihat dan mengetahui. Kedua, berasal dari kata nasiya yang artinya lupa. Ketiga, al-unus yang artinya jinak. Dengan mengacu pada kata anasa, maka insan mengandung arti melihat dan mengetahui, dan semua arti ini berkaitan dengan kemampuan manusia dalam bidang penalaran, sehingga dapat menerima pengetahuan. Adapun kata kamil dapat diartikan sebagai suatu keadaan yang sempurna, dan digunakan untuk menunjukkan pada sempurnanya zat dan sifat, semua itu dapat terjadi melalui sejumlah potensi, seperti ilmu dan sikap yang baik lainnya. Dengan demikian, untuk mewujudkan insan kamil diperlukan adanya manajemen dalam menjaga keseimbangan hidup. Dalam hal ini ada delapan keseimbangan hidup yang meliputi fisik, intelektual, emosi, estetika, etika, sosial, finansial, dan spiritual

Insan kamil sebagai idealitas muslim di sini dapat merambah semua hakikat, yakni memahami Tuhan dalam segala sesuatu. Mereka melihat dengan suatu penglihatan batin yang telah tersingkap semua tirainya. Mereka memandang segala sesuatu sebagai penyingkapan diri (tajalli) Tuhan. Mereka mengetahui Tuhan sesuai dengan segi pengetahuan yang dimiliki oleh segala sesuatu di alam semesta. Manusia sempurna menyembah Tuhan melalui setiap wahyu. Sebagaimana termaktub dalam al-Qur’an. 

وما تفعلوا من خیر فان الله بھ علیم

Dan kebaikan apa saja yang engkau kerjakan, maka sesungguhnya Allah Maha mengetahui (Q.S. al-Baqarah: 215)

Insan kamil sebagai idealitas muslim dapat dijelaskan melalui ciri-ciri sebagai berikut:

1. Berfungsi Akalnya Secara Optimal.

Menurut Ibn Bajjah, akal merupakan bagian terpenting manusia, karena pengetahuan yang benar dapat diperoleh lewat akal. Akal merupakan kelebihan yang diberikan Allah swt kepada manusia, sebagaimana firman Allah dalam al Quran.

ان في ذلك لایت لقوم یعقلون

Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berakal. (Q.S. An-Nahl: 12) Manusia yang akalnya berfungsi secara optimal dapat mengetahui bahwa segala perbuatan baik seperti adil, jujur, berakhlak sesuai dengan esensinya dan merasa wajib melakukan hal semua itu walaupun tidak diperintahkan oleh wahyu. Manusia yang demikianlah yang dapat mendekati tingkat insan kamil.

2. Berfungsi Intuisinya

Insan Kamil dapat juga dicirikan dengan berfungsinya intuisi yang ada dalam dirinya. Ibn Sina menyebut intuisi dengan al-hads/al-qudsi (intuisi suci). Berbeda dengan pengetahuan rasional, pengenalan intuitif disebut juga huduri karena objek penelitiannya hadir dalam jiwa penelitinya, sehingga ia menjadi satu dan identik dengannya. Dengan ini, dapat dipahami bahwa pengetahuan intuisi adalah pengetahuan yang dilimpahkan Tuhan kepada manusia yang dikehendaki untuk menerima pengetahuan secara langsung. Dengan ini dapat disimpulkan, bahwa pengetahuan intuitif atau ilham bisa diperoleh apabila seseorang telah mampu membuka tabir yang menghalangi antara diri manusia dengan Tuhan. Sebagaimana dijelaskan dalam Firman-Nya.

فالھمھا فجورھا و تقوھا

Maka Dia mengilhamkan kepadanya (jalan) kejahatan dan ketakwaannya. (Q.S. Asy-Syam: 8)

3. Menghiasi Diri Dengan Sifat-Sifat Ketuhanan

Manusia merupakan makhluk yang mempunyai naluri ketuhanan (fitrah). Ia cenderung kepada hal-hal yang berasal dari Tuhan, dan mengimaninya. Sifat-sifat tersebut membuat ia menjadi wakil Tuhan di muka bumi.

واذقال ربك للملائكة اني جاعل في الارض خلیفة.

Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan khalifah di muka bumi.” (Q.S. Al-Baqarah: 30)

Manusia sebagai khalifah yang demikian itu, merupakan gambaran manusia ideal. Manusia yang berusaha menentukan nasibnya sendiri, baik sebagai kelompok masyarakat maupun sebagai individu. Yaitu manusia yang memiliki tanggung jawab besar dalam kehidupannya.

4. Berakhlak Mulia

Akhlak adalah suatu sistem nilai yang mengatur tindakan dan pola sikap manusia di muka bumi. Adapun sistem nilai tersebut antara lain adalah ajaran Islam, dengan al-Qur’an dan Sunnah Rasul sebagai sumber nilainya, dan ijtihad sebagai metode berpikir Islami. Adapun tindakan dan pola sikap yang dimaksud meliputi berbagai pola hubungan dengan Allah, sesama manusia, dan dengan alam. Ibn Miskawaih seorang filosof moralis, ia berpendapat dalam kitab tahdzibul akhlak, menyatakan akhlak adalah suatu sikap mental atau keadaan jiwa yang mendorongnya untuk berbuat tanpa berpikir dan pertimbangan.23 Agama Islam adalah sistem moral atau akhlak yang berdasarkan pada akidah yang diwahyukan Allah swt kepada utusannya kemudian disampaikan kepada umatnya. Diantara ayat al-Qur’an tentang akhlak yang baik adalah sebagai berikut:

وانك لعلى خلق عظیم

“Dan sesungguhnya engkau Muhammad benar-benar berakhlak yang agung”. (Q.S. Al-Qalam: 4)


Komentar

Postingan populer dari blog ini

HIKMAH DAN KEARIFAN DALAM PEMBINAAN AKHLAK

TRADISI TASAW DALAM BERBAGAI KULTUR: PERSPEKTIF PERBANDINGAN ANTARA SUFISME DAN MISTIKISME LAINNYA