Definisi Tauhid Dan Ilmu Tauhid

PENGERTIAN TAUHID DAN ILMU TAUHID


Tidak dapat dipungkiri bagi setiap muslim istilah tauhid merupakan istilah yang sangat familier. Namun demikian tidak setiap muslim mampu memahami istilah tauhid secara baik. Hal ini dikarenakan kata tauhid walaupun terdengar sederhana akan tetapi memiliki makna yang cukup kompleks, sehingga istilah ini membutuhkan kajian tersendiri.

Secara etimologi istilah tauhid berasal dari kata dasar wahida yakni “keesaan Allah” di dalam Alquran sendiri kata yang disebut secara eksplisit adalah kata Wahida (Q.S al-Baqarah ayat 163) dan Ahada (Q.S Al Ikhlas ayat 1) yang artinya Maha Esa

وَاِ لٰهُكُمْ اِلٰهٌ وَّا حِدٌ ۚ لَاۤ اِلٰهَ اِلَّا هُوَ الرَّحْمٰنُ الرَّحِيْمُ

"Dan Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa, tidak ada tuhan selain Dia, Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang."

(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 163)

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

قُلْ هُوَ اللّٰهُ اَحَدٌ 

"Katakanlah (Muhammad), Dialah Allah, Yang Maha Esa."

(QS. Al-Ikhlas 112: Ayat 1)

Sedangkan kata tauhid sendiri tidak disebutkan secara eksplisit di dalam Al-qur’an. Dengan demikian bahwa kata dasar tauhid ini (Wahida/Ahada) menjadi konsep dasar Islam tentang Tuhan. Berdasarkan penjelasan tadi, maka istilah tauhid sudah menunjuk pada upaya menegaskan, memahami, mengkaji, mempelajari dan mengimani keesaan Allah SWT.  Dengan kata lain secara etimologi istilah tauhid itu sendiri telah mengandung makna ilmu tentang keesaan Allah SWT. Namun demikian walaupun secara bahasa telah mengandung makna ilmu akan tetapi kajian ilmu tauhid bukan keilmuan murni melainkan harus menjadi representasi manifestasi ajaran Islam. Sehingga istilah tauhid berarti ilmu yang berupa mengkaji keesaan Allah dengan tujuan agar memperoleh pengetahuan, pemahaman, dan keyakinan mengenai keesaan Allah.

Dengan demikian istilah tauhid dari kajian bahasa telah mengandung pengertian mengajak atau menganjurkan seluruh umat manusia untuk mengisahkan Allah SWT secara benar dan murni. Sehingga ketika tauhid dikaji menjadi satu disiplin ilmu maka tujuannya tidak hanya memahami persoalan-persoalan tauhid saja melainkan juga berupaya menanamkan dan menumbuhkan keimanan. Dengan kata lain kajian ilmu tauhid adalah untuk memperdalam memperluas dan membuktikan keesaan Allah SWT dengan dalil naqli dan aqli agar memperoleh iman yang benar dan kuat.

Untuk untuk pengertian ilmu tauhid sendiri ialah suatu ilmu yang membahas tentang ketuhanan Allah SWT, baik yang berhubungan dengan zatnya, dengan perbuatannya, maupun yang berhubungan antara seorang hamba terhadapnya. Pada awalnya penegasan terhadap keesaan Allah SWT  itu dalam ilmu tauhid difokuskan pada tiga dimensi yakni: 

Tauhid Rububiyah, Allah SWT adalah satu-satunya pencipta pemelihara penguasa dan pengatur alam semesta.

Tauhid Asma wa sifat, tentang adanya Allah yang maha esa yang tidak ada satupun yang menyamai-Nya dalam zat sifat atau perbuatan-perbuatannya serta membenarkan nama-namanya yang maha mulia (Asmaul Husna) dan sifatnya yang maha sempurna dan menafikan sifat kurang dan tercela darinya.

Tauhid Uluhiyah menegaskan Allah SWT dari semua makhluk-Nya dengan penuh penghayatan dan keikhlasan beribadah kepada-Nya, meninggalkan peribadatan selain kepada-Nya.

Tauhid baik sebagai ajaran atau ilmu memiliki kedudukan yang tinggi dalam Islam. Kedudukan tinggi tauhid dan ilmu tauhid adalah sebagai dasar atau pondasi utama bagi ajaran atau ilmu-ilmu keislaman yang lain seperti syariah dan akhlak atau tasawuf dengan kata lain tauhid atau ilmu tauhid berfungsi sebagai pintu gerbang yang mesti dilalui oleh ajaran atau ilmu-ilmu keislaman yang lain. Secara khusus alasan tingginya kedudukan ajaran tauhid atau ilmu tauhid ini adalah terkait dengan tingginya posisi iman dalam agama Islam.

Hukum mempelajari ilmu tauhid adalah fardhu ‘ain bagi setiap orang mukallaf, meskipun hanya mengetahuinya dengan dalil-dalilnya yang global. Adapun mempelajari ilmu tauhid dengan dalil yang terperinci hukumnya adalah fardhu kifayah. Apabila ilmu tauhid sudah meresap ke dalam jiwa, maka akan tumbuh perasaan puas, rela, dan bahagia atas pemberian dan ketentuan Allah, sehingga jiwa menjadi tenang dan tenteram. Jiwa juga memiliki harga diri dan menghargai orang lain, dan memiliki rasa kasih sayang kepada sesama manusia. 

Layak diketahui bagi setiap hamba Allah, bahwa setiap yang Allah wajibkan memiliki pengaruh dan manfaat yang tampak pada mereka. Dan tauhid merupakan perintah paling utama yang Allah wajibkan kepada segera tambahnya pengaruhnya positif dan hasilnya tentu sangat besar. Tidak ada sesuatu yang pengaruhnya sangat baik, buahnya segar dan keutamaannya bermacam-macam seperti yang ada pada tauhid karena kebaikan dunia dan akhir merupakan buah dan keutamaan tauhid  Diantara manfaat tauhid dalam kehidupan manusia adalah

1. Tauhid merupakan sebab lapangnya dada seseorang dalam kehidupan di dunia.

Allah SWT berfirman dalam Q.S Al An’am:145

فَمَنْ يُّرِدِ اللّٰهُ اَنْ يَّهْدِيَهٗ يَشْرَحْ صَدْرَهٗ لِلْاِ سْلَا مِ ۚ وَمَنْ يُّرِدْ اَنْ يُّضِلَّهٗ يَجْعَلْ صَدْرَهٗ ضَيِّقًا حَرَجًا كَاَ نَّمَا يَصَّعَّدُ فِى السَّمَآءِ ۗ كَذٰلِكَ يَجْعَلُ اللّٰهُ الرِّجْسَ عَلَى الَّذِيْنَ لَا يُؤْمِنُوْنَ

"Barang siapa dikehendaki Allah akan mendapat hidayah (petunjuk), Dia akan membukakan dadanya untuk (menerima) Islam. Dan barang siapa dikehendaki-Nya menjadi sesat, Dia jadikan dadanya sempit dan sesak, seakan-akan dia (sedang) mendaki ke langit. Demikianlah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman." 

Petunjuk tauhid merupakan sebab lapangnya dada seorang, semakin kuat tauhidnya semakin sempurna hatinya, maka dadanya semakin lapang sempurna dan kuat.


2. Seorang yang bertauhid dan merealisasikan tauhidnya dengan sempurna sebagaimana yang diajarkan oleh para rasul akan mendapatkan petunjuk dan keamanan yang sempurna di dunia dan di akhirat dia akan selamat dari azab Allah aman dari kekekalan dalam neraka dia pun akan selalu mendapat petunjuk dalam syariat Allah dengan ilmu dan amal juga akan mendapatkan petunjuk di akhirat untuk mendapatkan surga ‘adn.

Allah SWT berfirman dalam Q.S Ash-Shoffat : 22-23

اُحْشُرُوا الَّذِيْنَ ظَلَمُوْا وَاَ زْوَا جَهُمْ وَمَا كَا نُوْا يَعْبُدُوْنَ 

"Kumpulkanlah orang-orang yang zalim beserta teman sejawat mereka dan apa yang dahulu mereka sembah,"

(QS. As-Saffat 37: Ayat 22)

مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ فَاهْدُوْهُمْ اِلٰى صِرَا طِ الْجَحِيْمِ

"selain Allah, lalu tunjukkanlah kepada mereka jalan ke neraka."

(QS. As-Saffat 37: Ayat 23)


3. Orang yang bertauhid jika datang musibah atau bencana yang besar, maka Allah akan memberinya penyelesaian dari setiap keluh kesahnya dan jalan keluar dari kesempitannya serta memberi mereka rizki dari jalan yang tidak dia duga sebagaimana firman Allah dalam Q.S At-Thariq: 4

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

 وَمَنْ يَّـتَّـقِ اللّٰهَ يَجْعَلْ لَّهٗ مِنْ اَمْرِهٖ یُسْرًا

"Dan barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia menjadikan kemudahan baginya dalam urusannya."


4. Tauhid merupakan satu-satunya sebab untuk menggapai ridho Allah SWT cinta dan pahalanya. Berbeda dengan syirik yang merupakan sebab turunnya siksa Allah kemurkaan dan kepedihan azabnya. Sebagaimana firman Allah dalam Q.S Al-Mujadillah: 22 

لَا تَجِدُ قَوْمًا يُّؤْمِنُوْنَ بِا للّٰهِ وَا لْيَوْمِ الْاٰ خِرِ يُوَآ دُّوْنَ مَنْ حَآ دَّ اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ وَلَوْ كَا نُوْۤا اٰبَآءَهُمْ اَوْ اَبْنَآءَهُمْ اَوْ اِخْوَا نَهُمْ اَوْ عَشِيْرَتَهُمْ ۗ اُولٰٓئِكَ كَتَبَ فِيْ قُلُوْبِهِمُ الْاِ يْمَا نَ وَاَ يَّدَهُمْ بِرُوْحٍ مِّنْهُ ۗ وَيُدْخِلُهُمْ جَنّٰتٍ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الْاَ نْهٰرُ خٰلِدِيْنَ فِيْهَا ۗ رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُمْ وَرَضُوْا عَنْهُ ۗ اُولٰٓئِكَ حِزْبُ اللّٰهِ ۗ اَ لَاۤ اِنَّ حِزْبَ اللّٰهِ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ

"Engkau tidak akan mendapatkan suatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapaknya, anaknya, saudaranya, atau keluarganya. Mereka itulah orang-orang yang dalam hatinya telah ditanamkan Allah keimanan dan Allah telah menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang dari Dia. Lalu dimasukkan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah rida terhadap mereka dan mereka pun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. Merekalah golongan Allah. Ingatlah, sesungguhnya golongan Allah itulah yang beruntung."







Komentar

Postingan populer dari blog ini

HIKMAH DAN KEARIFAN DALAM PEMBINAAN AKHLAK

INSAN KAMIL SEBAGAI IDENTITAS MUSLIM

TRADISI TASAW DALAM BERBAGAI KULTUR: PERSPEKTIF PERBANDINGAN ANTARA SUFISME DAN MISTIKISME LAINNYA