Sejarah pertumbuhan Ilmu Tauhid pada masa Rasulullah SAW serta faktor internal dan eksternal munculnya ilmu tauhid

 SEJARAH PERTUMBUHAN ILMU TAUHID PADA MASA RASULULLAH SAW SERTA FAKTOR INTERNAL DAN EKSTERNAL MUNCULNYA ILMU TAUHID

Sejarah menunjukkan bahwa pemahaman manusia terhadap ilmu tauhid itu sudah tua sekali yaitu sejak diutusnya Nabi Adam. Dalam Alquran sebagaimana firman Allah SWT dalam surat Al-Anbiya’:25

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

وَمَاۤ اَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَّسُوْلٍ اِلَّا نُوْحِيْۤ اِلَيْهِ اَنَّهٗ لَاۤ اِلٰهَ اِلَّاۤ اَنَاۡ فَا عْبُدُوْنِ

Artinya: "Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum engkau (Muhammad), melainkan Kami wahyukan kepadanya, bahwa tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Aku maka sembahlah Aku."

Berhenti tolak dari pengertian tauhid yakni membahas tentang adanya Allah SWT, dan utus-putusannya maupun hari pembalasan. Keyakinan ini pada dasarnya telah dirintis dan telah disyariatkan kepada nabi-nabi sebelumnya, sejak dari Nabi Adam sampai kepada Nabi Muhammad SAW. Dengan pengertian lain ajaran tauhid telah diwajibkan Allah SWT kepada Nabi Adam dengan umatnya sampai kepada nabi kita Muhammad SAW, yakni sama-sama meyakini adanya Allah SWT dengan seperangkat utusannya, maupun keyakinan tentang akan datangnya hari kiamat. Berkaitan dengan hal tersebut Allah berfirman dalam Q.S Asy-Syura: 13

شَرَعَ لَـكُمْ مِّنَ الدِّيْنِ مَا وَصّٰى بِهٖ نُوْحًا وَّا لَّذِيْۤ اَوْحَيْنَاۤ اِلَيْكَ وَمَا وَصَّيْنَا بِهٖۤ اِبْرٰهِيْمَ وَمُوْسٰى وَعِيْسٰۤى اَنْ اَقِيْمُوا الدِّيْنَ وَ لَا تَتَفَرَّقُوْا فِيْهِ ۗ كَبُـرَ عَلَى الْمُشْرِكِيْنَ مَا تَدْعُوْهُمْ اِلَيْهِ ۗ اَللّٰهُ يَجْتَبِيْۤ اِلَيْهِ مَنْ يَّشَآءُ وَيَهْدِيْۤ اِلَيْهِ مَنْ يُّنِيْبُ

"Dia (Allah) telah mensyariatkan kepadamu agama yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu (Muhammad) dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa, dan 'Isa, yaitu tegakkanlah agama (keimanan dan ketakwaan) dan janganlah kamu berpecah-belah di dalamnya. Sangat berat bagi orang-orang musyrik (untuk mengikuti) agama yang kamu serukan kepada mereka. Allah memilih orang yang Dia kehendaki kepada agama tauhid dan memberi petunjuk kepada (agama)-Nya bagi orang yang kembali (kepada-Nya)."

Dalam perjalanan sejarah peralihan antara seorang nabi dengan nabi yang lain tidak secara langsung (serah terima), melainkan HP berikutnya selalu merintis kembali ajaran Nabi yang sebelumnya, lebih-lebih untuk menanamkan ajaran tauhid. Keadaan tersebut dapat menimbulkan penafsiran bahwa nabi berikutnya membawa ajaran baru kembali, padahal tidak demikian, melainkan api berikutnya meneruskan ajaran tauhid yang telah diwajibkan kepada Nabi Adam a.s. timbulnya anggapan bahwa nabi berikutnya membawa ajaran baru disebabkan kondisi umatnya sendiri saat itu. Hal ini terbukti apabila seorang nabi telah wafat, maka umatnya kembali menyembah berhala, murtad dan kafir bahkan kembali kepada Animisme dan Dinamisme. Kedatangan Nabi Muhammad SAW. Sesungguhnya tidak membawa ajaran baru, akan tetapi menyempurnakan Dikenal Islam yang telah dirintis dan dikembangkan oleh nabi-nabi terdahulunya. Tetapi tugasnya cukup berat oleh karena masa sebelumnya terjadi “kekosongan Wahyu” atau dikenal dengan “ahlul fatrah” sesudah Nabi Isa a.s bangsa Arab menjadi murtad, kafir dan menyembah berhala atau dikenal dengan nama “jahiliyah”. Kedatangan Nabi Muhammad SAW adalah untuk menyempurnakan ajaran Islam kepada seluruh umat manusia. Allah berfirman dalam Q.S Al-Maidah:3

 اَ لْيَوْمَ اَكْمَلْتُ لَـكُمْ دِيْنَكُمْ وَاَ تْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِيْ وَرَضِيْتُ لَـكُمُ الْاِ سْلَا مَ دِيْنًا ‏

Artinya: “Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridai Islam sebagai agamamu.”

Diutusnya Rasulullah SAW, pembawa ajaran tauhid dan syariat Islam secara murni tanpa menimbulkan penyimpangan. Karena itu kerasulan Nabi Muhammad SAW adalah untuk mengembalikan dan memimpin umat kepada kemurnian tauhid yang mengesahkan Allah dengan murni dan konsisten sebagaimana yang dibawa oleh nabi-nabi pendahulunya. Nabi Ibrahim a.s dahulunya membawa agama yang sebenarnya yang tidak asing lagi bagi bangsa Arab, tauhid yang diajarkan Nabi Muhammad SAW ini adalah sebagai yang digariskan dalam Al qu’ran dan hadits.

Ada beberapa faktor yang telah melatarbelakangi lahirnya ilmu tauhid diantaranya:

A. Faktor internal

1. Al Qur’an

Alquran selain membawa ajaran untuk mengesakan Tuhan dan membenarkan keputusan Nabi Muhammad SAW, di bagian-bagian lain yang berhubungan dengan bidang akidah. Banyak ayat Alquran yang mendorong umat manusia agar dengan akal pikirannya mau memikirkan nikmat, hikmat dan kesempurnaan segala ciptaannya.

2. Kaum Muslimin

Pada awalnya pemeluk agama Islam menerima secara utuh apa yang diajarkan agama tanpa harus mengadakan penyelidikan. Sudah itu datanglah persoalan agama yang dipicu karena semakin banyaknya orang-orang non muslim yang masuk Islam. Di sinilah kaum muslimin mulai memakai filsafat untuk memperkuat argumen-argumennya. Kemudian datang pula orang-orang yang mengumpulkan ayat-ayat Alquran. Oleh karena itu, timbulnya perbedaan dan perselisihan paham di antara mereka dan dari pemikiran inilah yang merupakan faktor timbulnya ilmu tauhid.

3. Politik

Terbunuhnya Utsman bin Affan menjadi malapetaka besar atas umat Islam, sebab sejak saat itu umat Islam mulai terpecah secara politis menjadi beberapa sekte. Perselisihan dan perpecahan yang bermula pada masalah politik segera merambat ke bidang akidah.

B. Faktor Eksternal

1) Kepercayaan non muslim

Problem aqidah merupakan konsekuensi logis dari meluasnya daerah dan kekuasaan Islam. Luasnya daerah kekuasaan Islam ini diikuti pola oleh banyaknya orang-orang non muslim yang masuk Islam.

2) Filsafat

Filsafat sebagai salah satu faktor yang turut melahirkan ilmu tauhid, sekaligus juga turut membentuk memberi corak dan mewarnainya. Sebab di dalam ilmu tauhid itu, Islam adalah sendinya, dengan Al Qur’an sebagai dalil naqli yang pokok dari pada dalil aqli (filsafat).


Komentar

Postingan populer dari blog ini

HIKMAH DAN KEARIFAN DALAM PEMBINAAN AKHLAK

INSAN KAMIL SEBAGAI IDENTITAS MUSLIM

TRADISI TASAW DALAM BERBAGAI KULTUR: PERSPEKTIF PERBANDINGAN ANTARA SUFISME DAN MISTIKISME LAINNYA