PERTUMBUHAN ALIRAN-ALIRAN DALAM ISLAM DAN POKOK PENDIRIAN ALIRAN-ALIRAN TERSEBUT

 PERTUMBUHAN ALIRAN-ALIRAN DALAM ISLAM DAN POKOK PENDIRIAN ALIRAN-ALIRAN TERSEBUT 


Pada masa Nabi Muhammad SAW masih hidup, umat Islam berada dalam keadaan aman dan tenteram. Tidak pernah ada kekhilafan dan kesulitan yang tidak dapat diatasi dan dipecahkan, karena Nabi Muhammad SAW selamanya berada ditengah-tengah mereka, untuk menegaskan kepada umat persoalan apa yang dapat menjadi unsur pertentangan dan sengketa antara mereka, baik urusan agama maupun dunia. Selain dari itu umat Islam dikala sedang dalam puncak kejayaannya, pancaran cahaya yang gilang-gemilang atas kerasulan Muhammad SAW pun mencurahkan segenap tenaga dan pikirannya untuk membela cahaya Islam. Sehingga sampai masa wafatnya Nabi Muhammad SAW, mulailah umat Islam menemui kemusykilan-kemusykilan yang belum pernah dialami sebelumnya. Sedangkan untuk tempat bertanya atau tokoh yang dapat memecahkan soal-soal sulit tersebut, sukar didapat. Berlainan sekali ketika Nabi Muhammad SAW masih hidup, mudah bertanya dan mengembalikan masalah-masalah yang sukar kepadanya, dan rasul memutuskan dengan tepat dan memuaskan hati umat Islam semuanya.

Sebelum Nabi Muhammad SAW wafat, beliau pernah mengatakan bahwa umat Islam akan berpecah-belah. Dan perpecahan itu akan terjadi sebanyak 73 firqah. Di antara firqah yang sekian banyak itu hanya satu golongan yang dianggap benar, dan dijamin bebas dari siksaan api neraka. Yaitu golongan yang dinamakan: “Ahlussunnah wal Jama’ah” sedangkan yang 72 firqah lainnya dimasukkan kedalam api neraka. Hadits dibawah ini menyatakan: 

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اِفْتَرَقَ الْيَهُوْدُ عَلَى إِحْدَى أَوْ ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً، وَتَفَرَّقَتِ النَّصَارَى عَلَى إِحْدَى أَوْ ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً وَتَفْتَرِقُ أُمَّتِيْ عَلَى ثَلاَثٍ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً.

Artinya: “Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, ‘Kaum Yahudi telah terpecah menjadi tujuh puluh satu (71) golongan atau tujuh puluh dua (72) golongan, dan kaum Nasrani telah terpecah menjadi tujuh puluh satu (71) atau tujuh puluh dua (72) golongan, dan ummatku akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga (73) golongan.”

Hadits ‘Auf bin Malik Radhiyallahu ‘anhu.

عَنْ عَوْفِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اِفْتَرَقَتِ الْيَهُوْدُ عَلَى إِحْدَى وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً فَوَاحِدَةٌ فِي الْجَنَّةِ وَسَبْعُوْنَ فِي النَّارِ وَافْتَرَقَتِ النَّصَارَى عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً فَإِحْدَى وَسَبْعُوْنَ فِي النَّارِ وَوَاحِدَةٌ فِي الْجَنَّةِ وَالَّذِيْ نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَتَفْتَرِقَنَّ أُمَّتِيْ عَلَى ثَلاَثٍ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً وَاحِدَةٌ فِيْ الْجَنَّةِ وَثِنْتَانِ وَسَبْعُوْنَ فِيْ النَّارِ، قِيْلَ: يَا رَسُوْلَ اللهِ مَنْ هُمْ؟ قَالَ: الْجَمَاعَةُ.

Artinya: “Dari ‘Auf bin Malik, ia berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Yahudi terpecah menjadi 71 (tujuh puluh satu) golongan. Dan Nasrani terpecah menjadi 72 (tujuh puluh dua) golongan. Dan demi Yang jiwa Muhammad berada di Tangan-Nya, ummatku benar-benar akan terpecah menjadi 73 (tujuh puluh tiga) golongan, yang satu di Surga, dan yang 72 (tujuh puluh dua) golongan di Neraka,’ Ditanyakan kepada beliau, ‘Siapakah mereka (satu golongan yang masuk Surga itu) wahai Rasulullah?’ Beliau menjawab,‘Al-Jama’ah.’”

Awal mula pertumbuhan aliran-aliran dalam Islam terjadi pada masa Khalifah Ali bin Abi Thalib. Karena setelah wafatnya Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib terpilih menjadi Khalifah. Akan tetapi sayang pilihannya itu tanpa suara bulat, karena ada golongan yang tidak menyetujui pengangkatan itu. Bahkan, ada yang menentang pengangkatan tersebut yang menuduh Ali ikut campur atau sekurang-kurangnya membiarkan komplotan pembunuhan Utsman . Semenjak itulah, berpangkalnya perpecahan umat Islam hingga menjadi beberapa aliran. Diantaranya sebagai berikut: 

A. Syiah 

Syiah adalah suatu kelompok yang menyatakan bahwa Ali bin Abi Thalib adalah yang paling utama diantara para sahabat dan yang berhak untuk memegang tampuk kepemimpinan atas kaum muslim, demikian pula anak cucunya (Ahlu bait).

Pokok pendirian Syiah yaitu mereka berkeyakinan, bahwa yang dijadikan imam sesudah wafatnya Nabi Muhammad SAW ialah Ali bin Abi Thalib. Ali adalah guru yang ulung dan Ali lah yang mewarisi segala pengetahuan yang ada pada Nabi. Bukan hanya itu saja, malahan Ali dianggap ma’sum dari kesalahan. Oleh karena itu, menurut mereka mentaati dan mempercayai Ali termasuk rukun iman juga. Adapun khalifah-khalifah yang terdahulu adalah khalifah-khalifah yang merampas hak Ali.

B. Khawarij 

Khawarij adalah kaum yang keluar dari barisan Ali bin Abi Thalib. Adapun pokok-pokok pendiriannya yaitu: 

1. Ali, Utaman dan orang-orang yang turut dalam peperangan Jamal dan orang-orang yang setuju dengan adanya perundingan antara Ali dan Muawiyah, semua dihukumkan orang-orang kafir.

2. Setiap umat Muhammad yang terus-menerus membuat dosa besar hingga matinya belum tobat orang itu dihukumkan kafir dan akan kekal di neraka.

3. Boleh keluar dan mematuhi aturan-aturan kepala negara, bila ternyata kepala negara itu seorang yang zalim atau khianat.

C. Murjiah 

Murjiah adalah golongan yang tak sepaham dengan kelompok khawarij dan kelompok syiah. Benih ide-ide munculnya Murji’ah sebagaimana halnya dengan Khawarij pada mulanya berkaitan soal politik (Harun Nasution : 1986:22) atau lebih tepatnya berkaitan dengan masalah khilafah yang menimbulkan pertikaian dikalangan umat muslim. Khususnya yang terjadi saat itu di Madinah setelah munculnya peristiwa pemberontakan yang datang dari Mesir sehingga menyebabkan terbunuhnya Khalifah Usman Ibn Affan pada tahun 35 H atau tepatnya tanggal 17 Juni 856 M (Mahmud Nasir, 1988:192) seandainya tidak muncul persoalan khilafah tersebut maka kemunculan Khawarij dan Syi’ah dikemudian hari tidak akan ada. Demikian pula kalau tidak muncul persoalan khilafah maka tidak akan ada faham dan aliran Murji’ah terbunuhnya Khalifah Usman Ibnu Affan menimbulkan berbagai dampak sosial, politik dan teologi yang hebat dikalangan umat Islam.

D. Mu’tazilah

Kaum Mu`tazilah merupakan sekelompok manusia yang pernah menggemparkan dunia Islam selama lebih dari 300 tahun akibat fatwa-fatwa mereka yang menghebohkan, selama waktu itu pula kelompok ini telah menumpahkan ribuan darah kaum muslimin terutama para ulama Ahlus Sunnah yang bersikukuh dengan pedoman mereka. Sejarah munculnya aliran Mu‟tazilah muncul di kota Bashrah (Iraq) pada abad ke 2 Hijriyah, tahun 105 – 110 H, tepatnya pada masa pemerintahan khalifah Abdul Malik Bin Marwan dan khalifah Hisyam Bin Abdul Malik. Pelopornya adalah seorang penduduk Bashrah mantan murid Al-Hasan Al-Bashri yang bernama Washil bin Atha‟ Al-Makhzumi Al-Ghozzal yang lahir di Madinah tahun 700 M, kemunculan ini adalah karena Wasil bin Atha‟ berpendapat bahwa muslim berdosa besar bukan mukmin dan bukan kafir yang berarti ia fasik. Imam Hasan alBashri berpendapat mukmin berdosa besar masih berstatus mukmin.

E. Asy’ariyah

Madzhab Asy’ari atau yang sering disebut dengan madzhab Asy’ariyah merupakan salah satu aliran kalam terbesar dalam sejarah kajian teologi islam. Sebutan Asy’ariyah sendiri merupakan penisbatan pada pencetus madzhab ini, yakni Abu Hasan Al-Asy’ari.8 Nama lengkap Al-Asy’ari adalah Abu Al-Hasan ‘Ali bin Ismail bin Ishaq bin Salim bin Ismail bin ‘Abdillah bin Musa bin Bilal bin Abu Burdah bin Abi Musa Al-Asy’ari. Abu Hasan al-Asy’ari lahir di Basrah pada 260 H/875 M. Ketika berusia lebih dari 40 Tahun, ia hijrah ke kota Baghdad dan wafat di sana pada tahun /324 H/935 M. Ada beberapa alasan yang menyebabkan Al-Asy’ari menjauhkan diri dari Mu’tazilah seksaligus sebagai penyebab timbulnya aliran teologi yang dikenal dengan nama Al-Asy’ari sebagai berikut: “Salah satu penyebab keluarnya alAsy’ari dari Mu’tazilah ialah adanya perdebatan-perdebatan dengan gurunya Abu ‘Ali al-Jubbai tentang dasar-dasar paham aliran Mu’tazilah yang berakhir dengan terlihatnya kelemahan paham Mu’tazilah.

F. Maturidiyah

Mazhab Maturidyah percaya bahwa akal dan syariah saling melengkapi untuk mencapai kebenaran ilahi. Sedangkan penamaan Maturidiyah dikaitkan dengan nama pendirinya, Abu Mansur Al-Maturidi. Sementara itu, Abu Mansur Al-Maturidi adalah seorang pemikir Islam terkemuka yang lahir di Maturid, Samarkand pada tahun 853 M atau abad ke-3 Hijriah, tepatnya pada masa pemerintahan Khalifah Al-Mutawakkil dari Dinasti Abbasiyah. Saat ini, wilayah Maturid berada di Uzbekistan.Dahulu sekte ini berkembang pesat di Maturid, Samarkand, sehingga dikenal dengan mazhab Maturidiyah Samarkand. Selain Samarkand, Maturidiyah berkembang di Bukhara. Kedua tempat ini dipandang sebagai episentrum tumbuhnya aliran Maturidiyah.Munculnya Maturidiyah dianggap sebagai respon terhadap perkembangan aliran Mu'tazilah pada masa Dinasti Abbasiyah. Kaum Mu'tazilah berpandangan bahwa kebena Munculnya Aliran Maturidiyah dalam Pemikiran Teologi Islam.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

HIKMAH DAN KEARIFAN DALAM PEMBINAAN AKHLAK

INSAN KAMIL SEBAGAI IDENTITAS MUSLIM

TRADISI TASAW DALAM BERBAGAI KULTUR: PERSPEKTIF PERBANDINGAN ANTARA SUFISME DAN MISTIKISME LAINNYA